LABITTA KHANSA ANJANI PUTRI 13
Dongeng
Pendek Tentang Kota-Kota Dalam Kepala
Judul
Buku : Dongeng Pendek
Tentang Kota-Kota Dalam Kepala
Nama
Penulis : Mashdar Zainal
Penerbit
Buku : Diva Press
Tahun
Terbit Buku : 2017
Tebal
Halaman : 216 halaman
ISBN : 978-602-391-401-2
Novel
karya Mashdar Zainal ini merupakan kumpulan cerpen yang telah ia tulis sejak
2011. Cerpen-cerpen yang terkumpul dalam buku ini menegaskan kesan dongeng yang
sangat imajinatif. Namun sebenarnya, kumpulan cerpen ini bukan hanya kisah
fiksi belaka. Kisah-kisah ini adalah hasil fiksionalisasi penulis terhadap
peristiwa-peristiwa nyata yang terjadi pada kehidupan nyata. Contohnya pada bab
satu yang berisi tentang sebuah cerpen berjudul Dongeng Pendek Tentang Kota
Kota Dalam Kepala.
Pada
bab ini, diceritakan tentang imajinasi penulis terhadap kota-kota yang hanya
karangan belaka dalam pikiran penulis. Seperti Kota Tungku, Kota Lumpur, Kota
Perempuan, dan kota-kota lainnya. Setiap kota menggambarkan kisah nyata yang
terjadi, namun melalui pembawaan cerita yang sangat imajinatif, dan masih mudah
dipahami maknanya oleh pembaca. Sekilas, cerpen ini terkesan hanya seperti
imajinasi penulis yang dituangkan menjadi sebuah karya sastra. Namun apabila
kita maknai lebih lanjut, cerpen pada bab satu ini memiliki arti dan makna yang
sangat dalam.
Bab Satu
Kota Tungku merupakan imajinasi penulis
terhadap kota yang terasa amat panas setiap harinya. Kota tersebut tidak pernah
libur dari panasnya suhu yang tinggi. Saking panasnya, setiap sungai di kota
tersebut menganga akibat kekeringan. Cerobong asap dan Gedung-gedung menghiasi
jalanan kota itu. Penduduknya seakan sudah biasa dengan pemandangan seperti
ini. Tidak ada yang menyadari apa yang tengah terjadi di kota tersebut, seakan
yang terjadi pada kota tersebut adalah kehidupan yang normal.
Penduduk kota tersebut terbiasa membeli es
batu untuk mendinginkan tubuh mereka. Baik untuk minum, bahkan mandi. Tak hanya
itu, AC saja sudah tidak mampu mendinginkan suhu kota tersebut. Seakan tidak ada
gunanya menggunakan AC di kota tungku. Tidak ada yang menyadari apa yang tengah
terjadi di kota tersebut. Mereka hanya
tau tiba-tiba pohon akan kering dan
susut mati begitu saja.
Usut punya usut, ternyata, dahulu kota ini
tidak terasa panas sama sekali. Dulu, kota ini terasa sejuk. Namun kian berganti
menjadi kota yang selalu panas bak tungku. Kota ini adalah gambaran dunia
apabila terjadi pemanasan global. Masyarakatnya seakan mewajari segala
kepanasan yang ada di kotanya. Padahal, hal ini adalah kiamat dari pemanasan
global.
Kota
Lumpur merupakan imajinasi penulis terhadap kota yang selalu dipenuhi lumpur. Lumpur-lumpur
ini keluar dari tubuh penduduknya. Setiap kali berbuat dosa, lumpur akan keluar
dari tubuh penduduknya.
Saking
pendosanya, lumpur-lumpur ini sudah memenuhi setiap sudut kota. Tidak
menyisakan masjid, gereja, dan tempat suci lainnya. Karena sejatinya, dosa itu
menjulur bagai lidah, dosa bisa menjilati apa saja, bahkan hal yang tadinya
suci pun bisa terkena dosa.
Kota
ini benar-benar tidak luput dari dosa dan lumpur. Setiap sudut kota, tidak ada satu
pun yang bersih dari lumpur. Semua tempat, semua orang, penuh dengan dosa.
Hanya nabi dan bayi saja yang tidak pernah berbuat dosa. Memang, lumpur ini akhirnya
mengganggu seluruh aktivitas penduduk kota. Dimulai dari yang sederhana saja, setiap
kali berbicara, bisa jadi, lumpur keluar dari mulut penduduk. Atau ketika
makan, tidak menutup kemungkinan rasa lezat dari makanan akan tercampur dengan
lumpur. Dan bahkan saat bercinta, lumpur masih ada disana. Namun setidaknya
lumpur ini adalah pertanda bahwa sejatinya dosa bisa dating kapan saja. Lumpur
ini memang menjadi bukti bahwa manusia tidak pernah luput dari dosa.
Kota
Perempuan merupakan imajinasi penulis terhadap sebuah kota yang mayoritas
penduduknya merupakan wanita. Kota ini bercerita, bahwa laki-laki adalah
makhluk yang paling mahal lagi berharga. Dan sebaliknya, wanita adalah makhluk
yang sangat murah, benar-benar murah. Jalanan di kota itu dipenuhi oleh
wanita-wanita tanpa busana yang sedang risau menahan birahi yang amat tinggi.
Bagaimana dengan para lelaki? Lagi-lagi berkebalikan, laki-laki akan mengurung
diri dirumah. Mereka tidak akan berani keluar. Mengapa begitu? Karena jika mereka
keluar, mereka akan menjadi korban dari keganasan para wanita di jalanan.
Laki-laki bisa saja disiksa ramai-ramai oleh perempuan di jalanan. Sejatinya, perempuan-perempuan
itu adalah golongan yang tidak mampu membeli lelaki. Mereka tidak memiliki
cukup uang untuk membeli laki-laki. Disisi yang lain, laki-laki adalah hal yang
sangat mahal. Akhirnya, mereka lebih suka mencari mangsa dijalanan. Tanpa
pakaian, mereka gelisah dengan birahi yang teramat tinggi.
Namun,
kota ini akhirnya mengalami perubahan. Para lelaki mulai tidak ingin
berhubungan dengan wanita. Mereka menganggap wanita adalah hal yang biasa.
Fenomena ini kian membawa kota ini ke perubahan yang amat drastis. Ya, lambat laun,
kota ini akan menjadi kota sesama jenis.
“Lelaki
bercinta dengan lelaki, apakah termasuk aturan di kota ini?”
“Sepertinya
begitu, mereka sudah bosan bercinta dengan perempuan yang sangat
over populated”
“Kalau
mereka bisa bercinta dengan sesamanya, kenapa kita tidak?”
Bab Dua
Pada
bab berikutnya, Mashdar menuliskan cerpen sebagai kiasan dari tragedy politik
1965. Cerpen ini berjudul “Kabut Ibu”.
Cerpen ini bercerita tentang bagaimana kondisi politik di Indonesia pada
saat itu. Yang mana, banyak jiwa tertelan secara cuma-cuma hanya karena dituduh
menjadi komunis. Kisah ini diangkat menjadi sebuah cerpen imajinatif yang
seakan tidak memiliki korelasi dengan tragedi tersebut sama sekali. Meski
memiliki gaya penulisan yang mudah dimengerti, namun makna dari cerita ini
tidak bisa kita temui sekilas hanya dengan membaca saja. Pembaca akan menemukan
makna tersirat dari cerpen ini setelah membaca penjelasan di bagian kata pengantar.
Dari
kamar ibu, asap kabut keluar melalui rongga-rongga pintu. Asap itu keluar
menjulur ke ruang tamu, dapur, hingga memenuhi seisi rumah. Bahkan, asap itu
merayap keluar dari rumah. Hingga rumah kami terlihat seperti rumah terkutuk
yang penuh asap. Tetangga mulai bergunjing tentang rumah kami. Mereka bilang,
inilah rumah pengikut setan.
Semua
ini bermula pada puluhan tahun silam. Tepatnya ditahun 1965 yang merah. Malam
itu, ayah tiba-tiba menyuruh ibu dan aku untuk menetap dikamar belakang. Aku
yang masih kecil tidak tahu menahu pada saat itu. Aku melihat lalu lalang orang
masuk ke ruang tengah, tempat ayah berada. Aku mendengar percakapan mereka yang
aku belum mengerti pada saat itu. Aku juga mendengar desingan golok yang
diikuti oleh sahutan takbir. Tidak lama, ayah menyuruh aku dan ibu untuk pergi
kerumah kakek.
Ibu
menuntunku keluar rumah, melewati jalan jalan kecil yang gelap. Rupanya, rumah
kakek adalah tujuan kami pada malam itu. Karena jalanku lamban, ibu terpaksa
harus menggendongku hingga kami tiba di rumah kakek. Aku juga tidak tahu kenapa
kita harus berjalan dengan cepat sampai rumah kakek.
Sesampainya
dirumah kakek, kakek menyambut kami berdua dan menyuruh kami untuk langsung
beristirahat. Keesokan harinya, kakek memanggil manggil nama ibu dan tidak menemukan
ibu diseluruh rumah.
“Ibu
mu mungkin sudah pulang duluan”. Ucap kakek, sambal mengajakku untuk pulang.
Selepas
dhuha, kakek mengantarku pulang dengan kereta untanya. Sesampainya didepan
rumah, tiba-tiba kakek menutup kedua mataku dan berbalik arah. Dari
rongga-rongga tangan kakek, aku bisa melihat orang berlalu lalang dengan
membawa keranda.
“Kenapa
kita tidak jadi pulang?”
“Rumahmu
masih kotor dan harus dibersihkan karena banjir.”
“Banjir?
Semalam kan tidak hujan?”
“Ya…
banjir..”
“Banjir
darah ya, kok warnanya merah..”
“Hus!”
Berselang
jam dihari yang sama, kakek memintaku untuk menetap dirumah dan tidak
menginjakkan kaki keluar rumah. Kakek bilang, hendak membersihkan rumah dan
menjemput ibu. Masih dengan kebingungan yang sama, aku tidak tahu apa yang
terjadi pada saat itu. Hanya saja, hawa mencekam terasa dari luar rumah. Yang
membuatku semakin yakin untuk menuruti perkataan kakek, agar tidak keluar dari
rumah. Dari sela sela jendela, aku bisa melihat kakek keluar rumah. Aku takut
kakek tidak bisa kembali. Walau aku juga tidak mengerti, apa yang sekiranya
membahayakan kakek.
Cukup
lama aku menunggu, akhirnya kakek kembali dengan selamat. Langkahnya
tertatih-tatih sambal membawa ibu yang sudah lemas. Tatapannya kosong, badannya
lemas tidak berdaya, ibu seperti boneka. Yang lebih mengerikan, dari badan ibu
keluar kabut yang tidak tahu asalnya darimana.
Aku
dan kakek merawat ibu yang kondisinya kian aneh. Setiap hari, tak sepatah kata
pun keluar dari mulut ibu. Makanan harus kami antar tiap harinya ke depan kamar.
Dan kondisi ibu masih sama, masih ada kabut dari kamar ibu. Makin hari,
kabut-kabut ini keluar melalui rongga-rongga pintu dan jendela. Merambat ke
ruang tengah, dapur, hingga memenuhi seisi rumah.
Sampai
suatu hari, aku dan kakek berinisiatif untuk mendobrak pintu kamar ibu. Penuh
kabut isinya, kakek pun membuka selambu dan jendela yang mengarah keluar rumah,
sambal mengibas ngibaskan tangan. Kabut mulai mereda, namun masih tebal memenuhi
kamar ibu. Tapi setidaknya, kami sudah bisa melihat seperti apa kondisi di kamar
ibu saat itu. Terus kami kibaskan tangan, agar pandangan kami semakin jelas.
Kabut sudah makin menipis. Tapi kami belum bisa menemukan ibu.
Kami
tidak yakin ibu benar-benar hilang. Berhari-hari kami membuat laporan ke
kecamatan hingga ke polisi, namun ibu tak kunjung ditemukan. Kabut ibu masih
ada disana. Aku dan kakek memutuskan untuk menutup pintu ibu rapat rapat. Aku
dan kakek tidak perlu khawatir tentang omongan tetangga. Kami tidak akan memikirkan
komentar apa yang akan diberikan oleh tetangga ketika tahu kabut itu telah
menelan ibu. Karena kami yakin, kabut ini perlahan tapi pasti akan menelan aku,
kakek, dan seisi rumah, sebagaimana kabut ini menelan ibu.
Novel
yang berisi kumpulan cerpen karya Mashdar Zainal ini masih memiliki banyak
cerita yang menarik untuk dibaca. Tidak hanya dongeng yang unik, cerita-cerita
dalam novel ini memiliki makna tersirat yang menarik untuk di dalami. Gaya Bahasa
yang digunakan dalam novel ini juga mudah dipahami, sehingga pembaca akan terbawa
dengan suasana dari cerita dengan mudah.

Judul Buku : Dongeng Pendek Tentang Kota-Kota Dalam Kepala
BalasHapusNama Penulis : Mashdar Zainal
Penerbit Buku : Diva Press
Tahun Terbit Buku : 2017
Tebal Halaman : 216 halaman
ISBN : 978-602-391-401-2
Novel karya Mashdar Zainal ini merupakan kumpulan cerpen yang telah ia tulis sejak 2011. Cerpen-cerpen yang terkumpul dalam buku ini menegaskan kesan dongeng yang sangat imajinatif. Namun sebenarnya, kumpulan cerpen ini bukan hanya kisah fiksi belaka. Kisah-kisah ini adalah hasil fiksionalisasi penulis terhadap peristiwa-peristiwa nyata yang terjadi pada kehidupan nyata. Contohnya pada bab satu yang berisi tentang sebuah cerpen berjudul Dongeng Pendek Tentang Kota Kota Dalam Kepala.
Pada bab ini, diceritakan tentang imajinasi penulis terhadap kota-kota yang hanya karangan belaka dalam pikiran penulis. Seperti Kota Tungku, Kota Lumpur, Kota Perempuan, dan kota-kota lainnya.
Kota Tungku merupakan imajinasi penulis terhadap kota yang tengah mengalami pemanasan global. Kota tersebut akan terasa panas setiap waktunya. Sungai-sungai menganga kekeringan. Cerobong asap dan Gedung-gedung menghiasi jalanan kota itu. Tidak ada yang menyadari apa yang tengah terjadi di kota tersebut. Penduduk kota tersebut harus membeli es batu untuk mendinginkan tubuh mereka. Bahkan, AC saja sudah tidak mampu mendinginkan suhu kota tersebut. Tidak ada yang menyadari apa yang tengah terjadi di kota tersebut. Mereka hanya tau tiba-tiba pohon akan kering dan susut mati begitu saja. Usut punya usut, ternyata, dahulu kota ini tidak terasa panas sama sekali. Dulu, kota ini terasa sejuk. Namun kian berganti menjadi kota yang selalu panas bak tungku, karena kota ini adalah bentuk nyata dari pemanasan global.
Kota
Novel karya Mashdar Zainal ini merupakan kumpulan cerpen yang telah ia tulis sejak 2011. Cerpen-cerpen yang terkumpul dalam buku ini menegaskan kesan dongeng yang sangat imajinatif. Namun sebenarnya, kumpulan cerpen ini bukan hanya kisah fiksi belaka. Kisah-kisah ini adalah hasil fiksionalisasi penulis terhadap peristiwa-peristiwa nyata yang terjadi pada kehidupan nyata. Contohnya pada bab satu yang berisi tentang sebuah cerpen berjudul Dongeng Pendek Tentang Kota Kota Dalam Kepala.
BalasHapusPada bab 1 ini, diceritakan tentang imajinasi penulis terhadap kota-kota yang hanya karangan belaka dalam pikiran penulis. Seperti Kota Tungku, Kota Lumpur, Kota Perempuan, dan kota-kota lainnya. Setiap kota menggambarkan kisah nyata yang terjadi, namun melalui pembawaan cerita yang sangat imajinatif, dan masih mudah dipahami maknanya oleh pembaca. Sekilas, cerpen ini terkesan hanya seperti imajinasi penulis yang dituangkan menjadi sebuah karya sastra. Namun apabila kita maknai lebih lanjut, cerpen pada bab satu ini memiliki arti dan makna yang sangat dalam.
Pada bab 2 ini, Mashdar menuliskan cerpen sebagai kiasan dari tragedy politik 1965. Cerpen ini berjudul “Kabut Ibu”. Cerpen ini bercerita tentang bagaimana kondisi politik di Indonesia pada saat itu. Yang mana, banyak jiwa tertelan secara cuma-cuma hanya karena dituduh menjadi komunis. Kisah ini diangkat menjadi sebuah cerpen imajinatif yang seakan tidak memiliki korelasi dengan tragedi tersebut sama sekali. Meski memiliki gaya penulisan yang mudah dimengerti, namun makna dari cerita ini tidak bisa kita temui sekilas hanya dengan membaca saja. Pembaca akan menemukan makna tersirat dari cerpen ini setelah membaca penjelasan di bagian kata pengantar.
Resume Novel "Dongeng Pendek Tentang Kota-Kota Dalam Kepala" ini disajikan dengan bahasa yang ringan, sehingga pembaca mudah memahami apa yang ingin disampaikan penulis. Diksi yang digunakan memiliki makna yang dalam sehingga kita yang membaca tertarik untuk membacanya dan menikmati alur ceritanya.
Kekuarangan dari resume cerpen "Kabut Ibu" dalam novel "Dongeng Pendek Dalam Kota-Kota Dalam Kepala" adalah beberapa diksi yang tidak langsng menjelaskan arti sesungguhnya, sehingga pembaca agak kesulitan untuk menelaah kejadian apa yang sebenarnya terjadi.