KEISHA SYAHLA AMELIA 12

 

Bertahan di Wina

Judul Buku                  : 99 Cahaya Di Langit Eropa (Bagian 1-3)

Nama Penulis              : Hanum Salsabiela Rais & Rangga Almahendra

Penerbit Buku             : PT Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit Buku     : 2013

Tebal Halaman            : 418 halaman

ISBN                           : 978-602-03-0052-8

 


        Novel karya Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra menceritakan tentang perjalanan Hanum dan Fatma di bumi Eropa. Tokoh Hanum yang merupakan seorang istri dari seorang suami Bernama Rangga, penerima beasiswa studi doktoral di Wina, Austria. Sebagai seorang istri, Hanum menyusul suaminya ke Austria untuk melanjutkan kehidupan rumah tangganya disana.

        Datang ke Eropa pada bulan Maret membuat Austria seharusnya sudah dalam kondisi yang hangat. Namun saat itu, hawa dingin masih menyelimuti Austria. Di Austria Hanum bertemu dengan Fatma. Kawan baru Hanum yang ditemuinya di kelas bahasa Jerman di sebuah kursus singkat yang diselenggarakan oleh pemerintah Austria. Di kelas tersebut, hanya Hanum dan Fatma yang berwajah nonbule di tengah-tengah para pendatang dari Eropa Timur.

       Fatma seorang muslimah yang taat. Sudah tinggal di Wina sejak tiga tahun yang lalu. Meski begitu, Ia masih harus mengenyam kursus Jerman level A1 seperti Hanum yang baru hitungan minggu tinggal di Wina. Alasannya satu, Fatma tidak memiliki kegiatan yang membuatnya harus berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Jerman. Ia tidak berkerja, ia tidak pula bersekolah. Bukan tanpa alasan, Fatma tidak bekerja bukan karena ia tidak ingin, melainkan karena ia tidak diterima di perusahaan manapun walaupun ia telah melayangkan lamaran pekerjaan. Bukan karena ia tidak memiliki kualifikasi yang sesuai, tapi sepertinya karena ia seorang muslimah yang berhijab. Tidak ada perusahaan yang mau menerimanya. Bahkan sekedar menjadi portir dapur pun ia tidak diterima. Sedangkan jika ia bersekolah, ia tidak memiliki cukup biaya. Di Indonesia, Wanita berhijab bisa saja berkarier sampai puncak. Namun tidak di Eropa apalagi Austria. Fatma harus mengubur dalam-dalam harapannya itu. Saat ini, satu tekad yang ia punya. Menjadi seorang perempuan solehah yang menjaga keluarga dan keharmonisan rumah tangga.

       Dalam bagian ini juga menceritakan perjuangan Hanum dan Fatma mencari tempat untuk mereka beribadah di kursus bahasa Jerman. Setiap istirahat yang hanya berdurasi 15 menit, Fatma selalu mengajak Hanum melaksanakan shalat zuhur berjamah. Tentu saja di kursus tersebut tidak menyediakan mushala atau langgar. Menemukan tempat ibadah shalat di Eropa saja sulit, apalagi di institusi sekuler seperti kursus bahasa. Namun Fatma panjang akal. Ia mengajak Hanum ke sebuah tempat. Walaupun kurang representatif untuk shalat, tetapi suasana di sana cukup khidmat. Tempat itu adalah ruang penitipan bayi dan anak para peserta kursus bahasa. Menyempil di antara bayi dan balita yang tertidur pulas.

       Masuk ke bagian kedua, Fatma mengajak Hanum pergi ke salah satu pegunungan yang ada di Wina yaitu Kahlenberg. Kahlenberg merupakan salah satu destinasi yang sering kali dikunjungi oleh para wisatawan. "Kahl" dalam bahasa Jerman artinya telanjang, sementara "berg" pegunungan. Maksudnya, orang dapat memandangi keindahan Wina tanpa batas. Dari kahlenberg, orang dapat melihat cantiknya Wina dari ketinggian. Fatma dan Hanum menggunakan bus sebagai transportasi untuk menuju ke Kahlenberg. Hanya membutuhkan waktu 1 jam untuk sampai di titik tertinggi Wina.

    Tepat pukul 17.30 mereka sampai. Disambut dengan udara dingin sekaligus pemandangan yang menakjubkan. Di depan mereka adalah pagar pembatas yang melingkar di sepanjang bukit. Membentengi dua bukut kecil yang ditebas menyerupai tembok. Di atas mereka adalah langit senja yang memberikan kehangatan. Sinar matahari yang semakin memerah membuat gedung serta bangunan disana serempak menyalakan lampu mereka. Semakin menambah nilai estetika yang sayang jika terlewatkan. Demi mengabadikan momen, Hanum mengeluarkan kamera di balik mantelnya. Memotrer detik-detik berubahnya suasana malam di pegunungan Wina. Salah satu pemandangan yang berhasil dipotret yaitu sebuah sungai yang membelah Wina menjadi dua. Sungai Donau atau Danobe. Sebuah sungai yang menginspirasi seorang musikus bernama Johann Strauss dalam menciptakan lagunya waltz The Blue Danube. Lagu ciptaannya ini benar-benar menggambarkan aliran Sungai Danube ini. Airnya terkadang tenang, terkadang bercipratan. Persis seperti partitur waltz The Blue Danube yang kadang bergerak lembut kadang berlompat staccato.

     Pukul 18.00 sore, matahari semakin menenggelamkan dirinya. Seperti negara Eropa pada umumnya, denting lonceng mulai bergema. Berbunyi bersaut-sautan dari satu gereja ke gereja lainnya semakin menambah khusyuk suasana. Di atas mereka lukisan langit gelap dan matahari terbenam, di tengah banyak gedung pencakar langit, dan di bawah terdapat pemandangan Sungai Danube. Komposisi pemandangan yang tidak biasa. Di tengah-tengah pemandangan yang tidak biasa, Hanum mulai menyadari sesuatu. Seperti ada yang kurang. Sesuatu yang akrab dia dengar menjelang matahari terbenam, tapi kali ini tidak ada. Fatma menyadari lamunan Hanum. Ditunjuknya sebuah bangunan di kejauhan. Sebuah masjid bernama Vienna Islamic Center berdiri kokoh. Terdengar sayup-sayup suara adzan yang biasa mereka temui di Indonesia. Samar terdengar namun masih terasa mengharukan. 

    Adzan dikumandangkan di langit Eropa. Panggilan untuk umat Islam agar segera melaksanakan kewajibannya menunaikan ibadah shalat magrib. Suasana ini membuat Hanum semakin terharu. Ia pejamkan matanya, semakin terdengar lafadz Allahu akbar… Allahu Akbar.. Suara ini mengingatkan pada suasana kampung halamannya. Berminggu-minggu Hanum tinggal di Eropa, jarang sekali ia mendengar lantunan suara ini.

    Di tengah keheningan suara, ia merasakan badannya mulai kedinginan. Mungkin karena matahari saat ini sudah benar-benar hilang dan malam semakin gelap. Pemandangan yang ia lihat menjadi berbeda dengan sebelumnya. Wina menjadi kota dengan cahaya lampu. Kabut malam yang tebal mulai menutupi bangunan dan Menara di Wina. Manusia yang tadinya juga berkerumun di pagar batas Kahlenberg juga sudah mulai meninggalkannya. Menyisakan Hanum, Fatma, dan Ayse, anak Fatma. Melihat Ayse yang semakin kedinginan, Hanum menyarankan Fatma untuk masuk ke bangunan yang ada di belakang mereka dengan tujuan menghangatkan diri. Satu-satunya bangunan yang ia maksud yaitu gereja berwarna kuning keemasan. Gereja Saint Joseph. Bangunan ini menjadi satu-satunya alternatif tempat berlindung selain kafetaria. Hanum langsung berlari membawa Ayse masuk ke dalam gereja tanpa mempedulikan ibunya. Beberapa saat kemudian, ia baru tersadar bahwa Fatma adalah seorang muslimah berjilbab. Bagi Fatma, mungkin kurang nyaman saat ia harus masuk ke dalam bangunan-bangunan seperti itu.

        Hanum menengok ke belakang, berusaha mencari keberadaan Fatma. Ternyata ia lari tergopoh-gopoh tepat di belakang Hanum. “Fatma, aku rasa...mmm..sebaiknya kita menghangatkan diri di kafetaria.” Kata Hanum kepada Fatma. Tak disangka-sangka, reaksi Fatma justru berbeda dari apa yang diduga oleh Hanum. Ia tetap meminta Hanum untuk masuk ke dalam gereja itu. “Di dalam banyak patung dan relief yang artistik. Kau perlu mengabadikannya dengan kameramu. Setelah itu, baru kita bersantai di kafetaria.” Kata Fatma kepada Hanum.

Mereka akhirnya memasuki gereja. Di dalam ternyata banyak jamaah yang sedang melakukan misa. Jamaah yang Sebagian besar beruban alias berusia lanjut tampak khidmat menyanyikan lagu. Ternyata tidak hanya Hanum dan Fatma yang masuk ke gereja sekedar untuk menghangatkan badan. Tanpa malu-malu para turis mengeluarkan kamera mereka dan mulai mengabadikan patung serta relief-relief yang ada di sana. Hanya satu syaratnya, tidak boleh menggunakan blitz. Hanum juga ikut mengabadikan setiap sudut gereja yang sudah berumur ratusan tahun itu.

Tak lama kemudian Fatma mendekati lilin-lilin yang menerangi Saint Joseph. Ia mengayunkan tangannya di atas lilin-lilin diikuti Hanum di belakangnya. Akhirnya ia bisa merasakan kehangatan di tengah dinginnya malam Wina. Di dekat beranda lilin terdapat sebuah gelas dengan tulisan 50 cent Euro. Ia pun memasukkan koin ke dalam gelas tersebut. Tanda terima kasih karena lilin-lilin tersebut telah memberinya kehangatan. Fatma masih menggendong Ayse dan mengusap hidung Ayse yang sudah basah karena ingus. Sembari menggendong Ayse, ia juga terlihat antusias mengambil gambar lewat kamera yang dititipkan Hanum padanya. Melihat peristiwa itu, Hanum berdiri dengan perasaan yang tak bisa ia gambarkan. Tentang Fatma dan seluruh sikapnya hari ini. Sikapnya yang membantah kekhawatirannya terhadap prinsip Islam yang dimiliki Fatma. Menurutnya, Fatma memahami agamanya tanpa menyulitkan dirinya sendiri. Mungkin, tidak semua orang muslim mempunyai pandangan yang sama dengan dirinya bahwa mereka boleh memasuki tempat ibadah umat agama lain. Tapi bagi Fatma, semua kembali lagi tergantung pada niat dalam hati. Saat itu, niatnya hanyalah untuk menghangatkan badan. Bukan untuk mengikuti peribadatan mereka.

Setelah puas mengabadikan gereja yang dipenuhi dengan detail-detail mengesankan, mereka duduk santai di kafetaria seberang Saint Joseph. Memakan sepotong croissant ditemani secangkir cappuccino yang mereka pesan. Sambil menyantap makanannya, mereka masih membahas keindahan gereja tadi. Gereja yang dibangun ratusan tahun lalu, dilengkapi detail relief yang rumit, ditambah menara yang tinggi. Mengingat gereja ini dibangun sudah sejak ratusan tahun yang lalu, pasti sulit melakukannya pada zaman dahulu. Fatma juga menjelaskan model dan tipe gereja-gereja di Eropa. Meskipun ia seorang muslimah sejati, tetapi ia memiliki kecermatan yang tinggi dalam mengamati gereja Eropa. Ada gaya gothic yang ditandai dengan menara tinggi. Semakin tinggi menara, jamaah yang berdoa di dalam gereja akan merasa semakin dekat dengan Tuhan. Karena Tuhan diasumsikan berada di atas langit. Ada juga gaya baroque yang ditandai dengan atapnya berbentuk kubah seperti masjid. Biasanya terdapat lukisan-lukisan gambaran malaikat dan mosaik bersepuh emas di dalamnya.

Hanum memotong pembicaraan Fatma. Ternyata ia lebih fokus kepada suara yang dihasilkan tamu kafe dari meja di balik dinding. Hanum mengintip tamu kafe tersebut. Ternyata mereka turis yang berkunjung ke Kahlenberg. Hanum menyimak pembicaraan mereka. Turis itu membahas tentang croissant. Dan kata-kata ini yang membuat Hanum menghentikan pembicaraan Fatma. “If you want to ridicule Muslim, this is how to do it!” Hanum mengintip mereka memakan croissant dengan gaya rakus yang dibuat-buat. Turis itu melanjutkan percakapannya. Menurut mereka, croissant bukanlah dari Prancis, melainkan dari Austria. Roti ini dibuat untuk merayakan kekalahan Turki di Wina. Mendengar Islam dijelek-jelekkan, Hanum berbisik kepada Fatma. Menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Fatma terdiam sejenak dan memikirkan rencana. Mendengat Fatma sudah memiliki rencana, Hanum antusias walaupun ia belum tahu apa rencananya. Fatma memastikan berapa jumlah turis serta apa yang mereka makan.

Setelah Fatma dan Hanum menghabiskan makanan dan minumannya, Fatma beranjak dari meja menuju ke kasir. “Aku membayar untuk semua. Termasuk untuk meja di belakang kami,” kata Fatma kepada pelayan sambal mengerdipkan matanya kepada Hanum. Hanum tercekat. Terdiam. Terpana. Tak bisa berkata apa-apa. Kata-kata yang sudah ia siapkan andaikata ia harus beradu mulut dengan para turis itu hilang dari kepalanya.

Selepas itu mereka Kembali ke pagar bukit Kahlenberg. Fatma mengajak Hanum Kembali ke tempat itu untuk sedikit berbincang dengan Hanum. Fatma mengajak Hanum ke Kahlenberg karena mereka sama-sama muslimah. Ia menceritakan sedikit sejarah tentang Turki yang memang kalah saat perang melawan Prancis dan Polandia. Jadi, bsia saja turis itu benar soal croissant yang menjadi symbol kekalahan Turki saat itu. Dari sini Hanum sadar. Fatma tidak hanya ingin menunjukkan kecantikan Wina kepadanya, tapi juga menceritakan fragmen sejarah panjang Islam di Eropa.

Untuk cerita lebih lengkapnya, kalian bisa membaca kelanjutannya di buku 99 Cahaya di Langit Eropa. Selamat membaca.

Komentar

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Dyah Aulia Rachma Arumdafta/07

    Novel berjudul 99 Cahaya Di Langit Eropa karya Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra yang dirangkum oleh Keisha Syahla Amelia mengangkat kisah tentang perjalanan Hanum dan Fatma di bumi Eropa. Cerita bermula saat suami Hanum, Rangga, mendapat beasiswa studi doktoral di Wina, Austria. Hanum lalu menyusul suaminya ke Austria untuk tinggal bersama. Sesampainya disana, Hanum bertemu dengan Fatma, muslimah taat yang sudah tinggal di Austria selama 3 tahun. Singkat cerita, mereka menjadi teman sesama muslim dan berjuang bersama di Eropa.

    Kelebihan novel ini ada pada gaya penulisannya, karena penulis menggunakan bahasa yang lugas, jelas, tapi sederhana sehingga bisa dibaca untuk umum. Penulis mengajak pembaca untuk ikut berpetualang bersamanya di Eropa. Selain itu, buku ini tidak menyajikan karya hanya dengan gaya bertutur personal namun lebih membawa kita ke dalam lingkungan yang hidup dan rill.

    Kekurangan dari novel adalah pemotongan tiap babnya terkesan dipaksakan, ketika sudah sampai di akhir bab, tiba-tiba ditarik kembali pada rangkaian cerita yang sebelumnya terputus, sehingga cukup membuat bingung yang membacanya. Untuk ringkasan yang dibuat Keisha sendiri sudah ringkas dan dapat dimengerti jalan ceritanya, hanya saja kekurangannya ada beberapa kesalahan penulisan atau typo pada penulisannya.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

BULAN AQEELA KYANDHINI 06