Jangan Hina Bapak ku!
Judul
Buku: Eliana; Serial Anak-Anak Mamak (Bab 1)
Nama
Penulis: Tere Liye
Penerbit
Buku: Republika Penerbit
Tahun
Terbit Buku: 2010
Tebal
Halaman: 519 Halaman
ISBN:
-

Novel
karya Tere Liye ini menceritakan kisah kehidupan Eliana, seorang anak sulung
dari 4 bersaudara yang tinggal di sebuah kampung yang jauh dari kota. Di bab
ini, diceritakan awal sebuah permasalahan dalam novel ini. Kala itu liburan panjang
tahun ajaran baru hampir usai. Sang ayah mengajak Eliana beserta adik perempuan
nya, Amelia, ke Kota Kabupaten. Pagi itu di rumah mereka sempat terjadi keributan
dengan kedua adik laki-lakinya, yang juga ingin ikut pergi ke kota. Mereka berangkat
beramai - ramai dengan beberapa orang kampung yakni, Bakwo Dar, Wak Yati, Pak
Bin, dan Mang Dullah. Ketika itu Eliana masih berumur 12 tahun dan sudah cukup
sering diajak oleh Bapak ke Kota Kabupaten menggunakan kereta. Perjalanan kali
ini pun juga sangat menyenangkan. Kereta yang mereka tumpangi melintas di atas
rel melewati hutan-hutan lebat dengan latar bukit hijau yang indah, dan sungai
yang berkelok. Perjalanan selama satu setengah jam terasa sangat singkat
dipenuhi dengan ucapan takjub selama perjalanan. Sesampainya di stasiun kota,
mereka mengendarai delman menuju pasar dengan celotehan Amelia yang sibuk
menunjuk-nunjuk dan bertanya tentang banyak hal hingga mereka sampai di toko emas
milik Koh Acung, yang berada di antara jajaran toko kelontong, dan berbagai
toko-toko lain nya. Eliana dan Amelia duduk menikmati cahaya matahari pagi yang
menyapa sembari memperhatikan karyawan toko yang sibuk menyiapkan dagangan. Bapak
berdiskusi sebentar dengan Mang Dullah hingga kemudian menitipkan Eliana dan
Amelia kepada Koh Acung sebelum pergi bersama Bakwo Dar dan yang lain. Amelia protes,
bertanya kemana Bapak akan pergi. Namun Bapak hanya menjawab ‘Urusan Penting’. Setelah
meyakinkan janji Bapak untuk membelikan seragam sepulang dari urusan penting
tersebut, Amelia pun melepas sang ayah untuk pergi menyelesaikan urusan nya. Satu
jam berlalu, Amelia mulai merasa bosan. Ia memilih untuk menyeret kursi nya ke
trotoar depan toko dan memperhatikan jalanan. Amelia mulai bertanya pada sang
kakak, mengapa Bapak pergi begitu lama. Eliana hanya mengangkat bahu tidak tahu
sambal menatap Gedung berwarna biru di kejauhan, tempat Bapak dan yang lain
menyelesaikan urusan mereka. Amelia terus menerus bertanya hingga Eliana kesal.
Pukul 11 Eliana mengajak Amelia ke toko cuci-cetak foto yang berada tak jauh
dari toko emas Koh Acung untuk mengambil sebuah amplop coklat besar yang isinya
hanya Eliana yang tahu. Mereka kembali menunggu hingga pukul 12, dan tidak ada
tanda-tanda Bapak dan yang lain kembali. Sedari tadi Amelia sibuk melirik kearah
Gedung biru, berharap Bapak muncul di tengah keramaian. Tepat pukul 1 siang,
Koh Acung yang sedang sibuk melayani pelanggan, menyempatkan diri untuk menyuruh
salah satu karyawan toko membelikan dua bungkus nasi dan minuman dingin untuk Eliana
dan Amelia. Mereka pun segera melahap nasi dengan telur balado dan sayur nangka
tersebut karena sebenarnya mereka sudah merasa lapar sedari tadi. Di tengah
kesibukan nya mengunyah menu makan siang nya, Amelia bertanya kepada Koh Acung
perihal apa yang sebenarnya dilakukan oleh Bapak. Koh Acung berkata bahwa Bapak
dan yang lain sedang melakukan pertemuan besar dengan orang-orang dari Kota
Provinsi. Orang-orang tersebut hendak melakukan penambangan pasir besar-besaran
di sungai kampung mereka. Setelah makan, Koh Acung memberi Amelia sebuah hadiah
berupa seragam sekolah bekas yang masih terlihat bagus.
Amelia tidak sabar
untuk menunjukkan hadiah dari Koh Acung tersebut kepada bapak. Ia pun mengajak
Eliana untuk menyusul Bapak dan yang lain di Gedung biru. Di tengah perjalanan ada
sebuah toko yang berhasil menarik perhatian Amelia. Toko tersebut menjual berbagai
keperluan sekolah seperti seragam hingga tas sekolah. Seorang pegawai toko
menawarkan kepada mereka untuk masuk dan melihat-lihat tas yang diinginkan
Amelia. Wajah berbinar dari pegawai tersebut berhasil membuat Amelia
mengabaikan seruan Eliana untuk segera pergi dari toko tersebut. Namun Amelia
masih bersikukuh untuk masuk dan melihat tas impian nya, meskipun Eliana sudah
berbisik bahwa mereka tidak memiliki biaya untuk membeli tas tersebut. Si pegawai
toko dengan lihai membujuk Amelia dengan menurunkan tas bergambar princess dari
etalase toko, yang sudah pasti langsung membuat mata Amelia berbinar lebih
lebar. Eliana tak mau kalah gesit dengan pegawai itu, dan segera menyeret
Amelia keluar dari toko tersebut. Setelah mereka berjalan menjauh dari toko tas,
Eliana dan Amelia menyeberangi jalanan kota yang ramai akan kendaraan.
Eliana terus
mendekap amplop coklat besar sambal mendongak, menatap pintu kaca sebuah
bangunan. Bangunan tersebut merupakan Gedung tempat Bapak dan yang lain
mengadakan pertemuan. Eliana
pun mengajak Amelia masuk ke dalam Gedung besar itu. Amelia terlihat ragu untuk
mengikuti langkah Eliana melintasi pintu kaca Gedung tersebut, ia memegang
lengan Eliana erat. Mereka pun berjalan beriringan masuk ke dalam bangunan tersebut.
Sesekali Eliana melirik ke dalam ruangan-ruangan yang ada di lantai 1, yang
terlihat kosong tanpa penghuni. Mereka memutuskan untuk menaiki tangga di ujung
lorong lantai 1. Di lantai 2, tampak sebuah lorong panjang dengan deretan
ruangan di kanan-kirinya. Amelia mencengkeram tangan Eliana semakin erat. Ia takut,
pemilik gedung akan marah karena mereka masuk tanpa seizin pemiliknya. Eliana bergegas
melangkah menyusuri lorong sambil sesekali mengintip pintu-pintu ruangan di lorong
itu. Eliana heran, kemana semua orang? Mengapa ruangan-ruangan di gedung yang
sangat bagus ini terlihat kosong tidak ada penghuninya? Amelia mulai takut
ketika mereka masuk semakin dalam. Ia membuat alibi bahwa ia ingin membuang air
kecil agar mereka bisa secepatnya keluar dari gedung tersebut dan kembali ke toko
emas Koh Acung. Namun ketika mereka berbalik, hendak kembali ke tangga,
samar-samar terdengar percakapan
serius dari ruangan paling ujung. Nama Bapak terdengar disebut dalam percakapan
tersebut. Seseorang terdengar mempertanyakan apa yang diperoleh bapak selama
bekerja di kampung, dengan nada meremehkan. Suara lain terdengar berkata bahwa
sesungguhnya maksud kedatangan mereka ke kampung adalah untuk menawarkan
kehidupan yang lebih baik, juga dengan alasan memberikan kesempatan kepada
Bapak untuk menjadi orang penting. Eliana menelan ludah gugup, ia menghentikan
langkah nya. Amelia menatap wajah Eliana gusar ketika nama Bapak disebut. Suara
berat itu kembali terdengar. Kali ini dengan intonasi yang lebih tinggi,
kembali menawarkan negoisasi dengan harga dua kali lipat lebih besar. Suara Bapak
pun terdengar menanggapi. Amelia yang mendengar suara Bapak menarik tangan Eliana
dan berlari-lari kecil dengan semangat di sepanjang lorong. Suara serak
terdengar kencang, mengatakan bahwa proyek penambangan pasir tersebut hanya bagian
kecil dari rencananya. Ia berkata, hutan di kampung mereka menyimpan harta
karun yang sangat berharga. Pemilik suara serak tersebut merasa bahwa Bapak
tidak mau mengambil kesempatan besar yang mereka tawarkan dan membuang
kesempatan itu dengan sia-sia. Ditengah perdebatan panas itu, Amelia dengan
tidak sopan nya mendorong pintu, masuk dengan wajah ceria nya sembari berteriak
memanggil Bapak. Semua
orang dalam ruangan menoleh. Bakwo Dar menahan Amelia yang menerobos semakin
masuk ke dalam ruangan mendekati Bapak tanpa peduli terhadap tatapan
orang-orang yang ada di dalam ruangan tersebut. Salah seorang peserta pertemuan
bertanya perihal siapa gerangan kedua gadis kecil yang masuk ke dalam ruangan
tanpa permisi. Dengan pelan, Bapak menjawab bahwa kedua gais tersebut adalah
anak nya sambil menatap tajam ke arah Eliana yang berdiri di ambang pintu dan
menyuruh Eliana membawa Amelia keluar. Eliana bergegas mengajak Amelia untuk keluar,
namun Amelia bersikeras untuk tetap di dalam ruangan karena ingin segera
menyampaikan kabar gembira nya kepada Bapak. Di tengah perdebatan kedua nya,
seseorang yang bersuara serak yang duduk di kursi paling besar bertanya apakah
kedua gadis itu adalah anak Bapak. Sambil mengangguk, Bapak kembali berserk memerintah
Eliana untuk segera membawa Amelia keluar dari ruangan. Orang berbadan tambun
tertawa kecil dan mempersilahkan Amelia dan Eliana untuk masuk. Amelia yang kegirangan
langsung menceritakan tentang seragam lungsuran yang tadi dihadiahkan Koh Acung
untuknya dan berkata bahwa uang untuk beli seragam ingin ia belikan tas yang ia
lihat tadi di toko tas. Orang bersuara serak tertawa ketika mendengar kata
lungsuran yang dilontarkan oleh Amelia. Tawa nya memenuhi seluruh ruangan,
badan tambun nya bergetar diatas kursi. Amelia tidak memedulikan tawa itu dan
lanjut membujuk sang ayah. Bapak semakin marah dan kembali menyuruh Eliana
membawa adiknya keluar. Eliana yang bingung melihat orang-orang berbadan besar tersebut
tertawa segera membawa Amelia keluar dari ruangan tersebut. Namun gerakan nya
tertahan ketika suara serak dari pria tambun itu mencegah nya untuk keluar. Orang
tersebut mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan. Ia berkata dengan nada remeh
mengejek bangunan sekolah kampung mereka yang hamper roboh, juga meremehkan
Bapak, dengan berkata bahwa betapa miskin nya Bapak hingga anak nya menggunakan
baju lungsuran untuk sekolah. Eliana yang tadinya menarik paksa Amelia keluar berhenti.
Kemarahan Eliana memuncak, apalagi ketika melihat orang-orang bertubuh besar
itu menyeka mata, menghapus sisa tawa mereka. Eliana mulai mendesis marah,
berkata, ‘Jangan hina bapakku’. Orang-orang yang ada disana menoleh dan saling berbisik.
Sekali lagi, dengan berteriak menahan tangis Eliana berkata “JANGAN HINA
BAPAKKU”. Seketika seluruh ruangan terdiam. Eliana melanjutkan kalimat nya. Berkata
bahwa mereka memang miskin, baju yang kami kenakan lungsuran, namun bukan
berarti kami hina, tidak ada yang salah dengan hal itu. Dan dengan marah ia
berkata bahwa Bapak tidak akan pernah menjual tanah kampung kepada mereka
sambil terus-menerus menegaskan bahwa Bapak lebih terhormat berkali-kali lipat
dibandingkan mereka. Bapak membentak marah, bangkit dari kursinya, menyuruh Mang
Dullah dan Pak Bin membawa Eliana dan Amelia keluar dari ruangan. Eliana meraung,
menangis sambil terus berkata “Jangan kalian hina Bapakku”. Eliana terus
menangis di sepanjang lorong, meronta ditarik keluar. Seluruh peserta ruangan
terdiam, langit-langit ruangan senyap, Eliana jatuh terduduk di lorong sambil
terus menangis. Dalam benak nya Ia bertekad, tidak akan pernah melupakan
kejadian tersebut. Ia berjanji tidak akan memaafkan dan akan melawan mereka
sampai kapanpun.
Komentar
Posting Komentar