AZZAHRA RAMADHANI ATTAMIMI 05

Judul Buku              : Berdamai dengan Badai (Bab I, VI, XII, XIII, XXIX-XXXI, XXXIII)

Nama Penulis          : M. Atiatul Muqtadir dan Miftah Forid M.

Penerbit Buku          : Bhumi Anoma

Tahun Terbit Buku   : 2020

Tebal halaman          : 220 halaman

ISBN                        : 978-623-6619-21-6




            Bab I dalam buku ini berisikan tentang bagaimana kita harus berdamai dengan badainya masalah hidup. Menurut buku ini, kita bagaikan pengembara dalam samudra kehidupan. Sudah pasti kita akan menemui badai dalam pengembaraan ini. Badai pasti akan tiba, besar atau kecil, cepat atau lambat. Kita tak bisa menghindarinya, dan jalan satu-satunya adalah berdamai dengannya.

            Bab ini mengajarkan bahwa seharusnya kita tidak cepat menyerah, tetapi mempersiapkan diri agar tidak gagal. Kita dididik sejak kecil untuk siap berprestasi, tetapi tidak pernah siap untuk gagal. Kita diajarkan untuk merayakan kemenangan dan pencapaian, tetapi kita tidak pernah diajarkan untuk berdamai dan menghadapi kekalahan, karena selalu ada tuntutan.

Pikiran kita sering lepas kendali. Merenungi penderitaan masa lalu dan ketakutan akan masa depan. Padahal, kita harus berdamai dengan semua masalah yang dihadapi dengan berdamai dengan diri sendiri terlebih dahulu. Jangan terlalalu berfikir yang berlebihan, kita harus menyadari bahwa pikiran hanyalah pikiran, bukan kenyataannya. Kita juga lupa untuk mensyukuri apa yang kita miliki dan bersikap positif terhadap diri kita sendiri.

Lalu di bab VI ini berisikan tentang ada dua hal yang berlawanan selalu datang bersama dan bergantian dalam hidup kita. Ada kebahagiaan, keindahan, dan kesederhanaan. Tapi ada juga kesulitan, kecemasan, dan perjuangan. Ada kelapangan dan kesempitan, sama seperti adanya pergantian siang dan malam. Kami mengalami kesehatan yang baik dan buruk pada kesempatan. Begitulah kehidupan di dunia ini. Setiap orang memiliki emosi yang sama. Tak seorang pun yang hanya mengalami panasnya siang atau gelapnya malam akan ditemukan. Takkan pula juga kita menemukan seseorang yang menikmati hidup tanpa melalui kesulitan.

Di balik tawa gembira, ada kesulitan. Semegah apapun rumah itu, di balik setiap temboknya hiduplah seorang anak dengan pipi basah, seorang ayah dengan banyak pikiran, atau seorang ibu dengan lubang di hatinya. Kita tidak akan pernah merasa sendirian karena masih banyak orang yang menderita penyakit, banyak orang yang tidak bisa makan, dan banyak orang yang tidak bisa tidur dengan nyenya karena khawatir akan sesuatu setiap kali memejamkan mata. Tidak hanya pipi kita yang basah, tidak hanya kita yang merasakan sesak di dada dan luka di hati, kita bukan satu-satunya yang mengalami hal-hal berat ini.

Masing-masing dari kita adalah pejuang yang mulia bila terus berjuang. Kita harus memperhatikan sekitar agar bisa terbebas dari perasaan yang membuat kita selalu merasa sendiri. Karena, perasaan itu dapat menghalangi kita untuk mengingat nikmat yang telah lama ada dan masih bisa dirasakan hingga sekarang. Dengan cara ini, kesulitan yang kita anggap sebagai batu besar yang menghalangi kita untuk bergerak maju sebenarnya akan menjadi kerikil yang dapat kita arahkan selangkah demi selangkah. Kita kemudian akan menyadari keadaan kita, merasa bersyukur, dan menemukan jalan keluarnya.

Kemudian, di bab XII ini mengajarkan kita untuk belajar memahami bahwa hidup juga tentang memaknai proses. Atau lebih tepatnya, proses yang sedang kita jalani. Kita harus bisa memahami bagaimana kehadiran setiap orang dapat mempengaruhi kehidupan kita. Karena apa yang diberikan kepada kita sebenarnya dimaksudkan untuk memberikan kita pelajaran dan memberikan kebijaksanaan. Kita tidak boleh terlalu mencemaskan diri sendiri. Saat kita melihat teman atau keluarga mendapatkan nikmat yang berlipat, kita sering kali merasa tidak percaya diri. Contohnya antara lain seperti karier yang sukses, menikah, dan hal lainnya.

Jangan pernah membandingkan hasil yang diperoleh orang lain dengan yang kita capai. Lebih baik, kita fokus pada factor dan proses mengawalinya. Bisa jadi orang-orang yang diberikan banyak pencapaian memang hadir untuk memberikan kita pelajaran. Mereka mungkin telah mengalami banyak pasang surut dalam proses mereka. Mereka kadang rela mengurangi jam tidur dan tak jarang harus memutar otak maupun memeras tenaga.

Ingatlah bahwa kita masing-masing punya masanya sendiri. Rezeki kita tak akan tertukar dengan rezeki orang lain. Tetapi, amal orang lain tak akan pernah menjadi amal kita. Jadi, mari kita beramal dan berproses.

Lalu di bab XIII ini berisikan tentang perlunya kita untuk juga merayakan kegagalan. Karena, kegagalan merupakan proses penting dalam perjalanan hidup. Kegagalan bukanlah hal yang memalukan. Kegagalan perlu dirayakan agar kita tidak takut untuk menghadapinya.

Pada kenyataannya, tidak ada yang bisa menghindari kegagalan. Karena, kegagalan merupakan bagian penting dari jalan melalui kehidupan. Ini menunjukkan bahwa hidup bukanlah tentang kesuksesan dan kegagalan. Kata “seandainya” dan “seharusnya” selalu menghantui pikiran kita. Kita akhirnya bisa berhenti mengkhawatirkan kata “seandainya” dan “seharusnya” dengan merayakan kegagalan.

Selanjutnya, di bab XXIX ini berisikan tentang hidup merupakan sebuah perjalanan. Perjalanan satu arah yang tak bisa diputar layaknya anak panah. Sekali panah dilepas, ia tak mungkin berbalik arah. Demikian pula dengan hidup kita. Semua yang sudah terlewat akan menjadi sebuah kenangan.

Sebenarnya, kita punya pilihan. Bagaimana kita menafsirkan apa yang telah terjadi? Apakah kisah yang menyembuhkan semangat atau luka yang tak pernah sembuh? Perjalanan ini sangat ditentukan oleh bagaimana kita memaknainya. Kita benar-benar tidak memiliki kendali atas apa pun yang telah terjadi.

Melupakan peristiwa masa lalu yang menyakitkan adalah suatu pekerjaan yang sia-sia. Mengapa demikian? Karena otak kita tidak dirancang untuk melupakan kejadian emosional. Demikianlah kata para pakar neuroscience. Ketika informasi dan emosi bertabrakan, disitulah ingatan jangka panjang terbentuk.

Jadi, apa yang harus kita lakukan? Yang bisa kita lakukan adalah berdamai, menerima, dan memaafkan daripada melupakan. Maafkan diri sendiri, maafkan orang tua  jika itu terkait dengan masalah pengasuhannya, dan maafkan semua pengalaman tidak menyenangkan di masa lalu. Memaafkan berarti menenangkan jiwa. Berdamai dan menerima situasi sulit adalah bagian dari proses tumbuh dan menjadi pribadi yang kuat. Seseorang yang siap untuk bertemu hari-hari berikutnya.

Masuklah kita di bab XXX yang berisikan tentang teramat banyak orang-orang yang bertanya soal lukanya kepada orang tua. Mungkin ini juga sebabnya banyak anak muda tumbuh tanpa rasa percaya diri, takut bermimpi, dan merasa tidak berguna. Salah satu hal yang paling penting untuk kita kenali dan terima adalah bahwa orang tua kita juga manusia. Manusia yang memiliki luka yang belum terselesaikan.

Beberapa penyebab luka pengasuhan dari orang tua antara lain, tuntutan tanpa henti, komunikasi satu arah, dan kegagalan dalam menggali potensi anak. Padahal, pertengkaran antar orang tua akan merugikan anak-anak mereka. Rasa sakit ini dapat banyak bentuknya, seperti dendam, kebencian, dan kemarahan. Namun sayangnya, banyak orang yang masih belum menyadarinya. Apalagi dengan semakin menggilanya tuntutan di zaman sekarang.

Tak sedikit juga yang beranjak ke jenjang pernikahan tanpa persiapan matang. Termasuk, tanpa menyelesaikan luka batin terlebih dahulu. Hingga akhirnya, luka itu berlanjut. Luka yang dilampiaskan sebagai tindak yang menyakiti anak, serta menjadi penyebab pertengkaran rumah tangga terjadi.

Luka tersebut dapat berbentuk sebagai kesulitan untuk mempercayai cinta dan meragukan cinta dari pasangannya. Karena dia telah melihat bagaimana ayahnya mengkhianati ibunya. Luka bisa menjadi trauma persepsi, menyebabkan kita menjadi tidak tulus dalam mencintai, mengharapkan sesuatu sebagai balasan atas semua yang kita lakukan untuk orang yang kita cintai. Luka itu mungkin akan membangun harapan untuk orang yang kita cintai, menyebabkan kita terluka ketika ada kekurangan yang tidak kita sangka. Dikarenakan tidak adanya kontak emosional dengan ayah dan ibu di masa lalu, luka itu dapat berupa perasaan yang tidak selalu dihargai oleh orang lain.

Kita sering lupa bahwa orang tua kita juga manusia. Tugas kita adalah berdamai dengan luka tersebut. Sambil memperbaiki hubungan kita dengan orang tua, menerima dan memaafkan sepenuhnya. Berdamai tidak berarti menoleransi atau membenarkan kesalahan, apalagi menyangkalnya. Berdamai berarti menerima kekurangan orang tua kita dalam mendidik kita. Ketenangan pikiran datang dari memaafkan, mengakui kekurangan, dan membangun kembali hubungan dengan orang tua.

Lalu di bab XXXI berisikan tentang satu hal yang akan membuat hidup kita lebih tenang adalah memaafkan. Jiwa kita akan terasa lebih lapang, dan hidup akan terasa lebih tenteram. Termasuk saat kita merasa tidak tenang, pikiran kita mengembara kemana-mana, mengingat kesalahan masa lalu, mengingat luka orang tua, mengingat perkataan orang lain kepada kita, mengingat kesalahan orang lain kepada kita. Jika itu masalahnya, saatnya kita untuk belajar memaafkan.

Kita sebagai manusia tidak memiliki kendali atas masa lalu. Masa lalu telah berlalu dan tidak akan pernah kembali. Penerimaan masa lalu dapat dicapai melalui memaafkan. Terutama kenangan menyakitkan dari masa lalu. Beri waktu untuk mengistirahatkan pikiran yang sedang kacau. Rilekskan pikiran. Jangan melupakan segala kenangan buruk itu. Karena otak tidak dibangun untuk melupakan. Peristiwa emosional akan terekam dalam memori.

Itu sebabnya, memaafkan bukan sengaja melupakan atau menumpuknya dengan memori lain merupakan Tindakan yang tidak mungkin. Menahannya tidak akan menyembuhkan lukanya. Justru, luka itu akan kembali muncul dan menyakitkan, jika ada satu hal yang membuat kita teringat dengan peristiwa menyakitkan di masa lalu. Dengan begitu, memaafkan berarti berdamai.

Lalu terakhir di bab XXXIII ini yang berisikan tentang terkadang, kita mendapatkan perlakuan yang tidak sesuai dengan keinginan. Teman yang telah membohongi kita, lawan yang telah menghina kita, rekan kerja yang telah memfitnah kita, guru yang telah memarahi kita, orang yang kita cintai telah meninggalkan kita, dan sebagainya.

Ada saat-saat ketika kita mendapatkan perlakuan tidak adil yang menghancurkan hati kita dan kita sangat ingin membalasnya. Rasa sakit itu seringkali tersimpan rapat di hati, menunggu waktu yang tepat untuk membalasnya. Alih-alih memaafkan, kita terus mengingat keburukan yang justru menggerogoti kebahagiaan hati.

Memaafkan adalah perbuatan yang sangat mulia. Karena kita bisa tetap sabar dengan gangguan atau perlakuan buruk, meski kita mampu membalasnya. Bersedia untuk meninggalkan kemarahan pada orang yang telah menyakiti kita dan berlaku tidak adil, memang bukan perkara kecil. Memaafkan membuktikan diri kita berjiwa besar.

Memaafkan bukan berarti melupakan apa yang telah terjadi. Luka yang terlanjur menyayat hati memang tidak bisa dihilangkan. Namun, itu bisa diobati dan disembuhkan. Memaafkan dapat membantu menyembuhkan luka. Memaafkan tidak dapat menghapus suatu kejadian, melainkan mengubah persepsi. Kita tidak bisa melupakan komentar buruk dan hinaan dari teman-teman. Akan tetapi, kita bisa mengubah bagaimana perasaan kita terhadap memori itu.

Memaafkan adalah kemenangan terbesar kita, bukan kekalahan terburuk kita. Karena nafsu dan keegoisan adalah musuh terbesar kita. Dengan memaafkan, berarti kita telah memenangkan perang dengan ego kita. Jadi, ini bukan tentang diri kita melawan orang yang menyakiti kita. Itu bukan musuh bagi kita. Ada yang lebih besar yang harus kita lawan, yang pertempurannya tak akan ada habisnya, yakni keegoisan diri.

Memaafkan adalah proses yang Panjang, bukan sekadar keputusan yang berlangsung singkat dan selesai dalam semalam. Memaafkan memerlukan waktu untuk menyembuhkan bekas luka di hati kita. Memaafkan bak penawar yang kita konsumsi setiap hari. Jadi, ini bukan hanya untuk mereka yang telah menyakiti kita. Ini justru menjadi obat bagi luka yang kita rasakan. Memaafkan adalah cara untuk nahagia, karena kita mampu mengizinkan hal buruk pergi dan membiarkan hal baik tetap tinggal.

Komentar

  1. Karya yang dibuat oleh Azzahra Ramadhani Attamimi merupakan karya yang berisi ringkasan cerita dari buku berjudul “Berdamai Dengan Badai” karya M. Atiatul Muqtadir dan Miftah Forid M. Dalam karya ini, penulis meringkas beberapa bagian di dalam buku. Bab yang diringkas yaitu Bab I, Bab VI, Bab XII, Bab XIII, Bab XXIXX-XXXI, dan Bab XXXIII. Pada intinya, buku ini menceritakan tentang bagaimana kita menghadapi setiap fase di hidup kita.

    Cerita bermula dari penjabaran Bab I. Dalam bab ini menceritakan tentang bagaimana kita harus berdamai dengan masalah-masalah hidup yang kita alami. Bab ini mengajarkan kita untuk tidak melulu merenungi masa lalu. Tetapi mulailah untuk mensyukuri apa yang kita miliki.

    Pada Bab VI, menceritakan tentang dua sisi hidup yang akan selalu kita rasakan. Akan ada kebahagiaan dan juga kesedihan yang menghampiri kita. Semua orang merasakannya sehingga jangan pernah merasa sendiri.

    Memasuki Bab XII, pada bab ini kita diajarkan untuk menghargai proses. Rezeki kita tidak akan pernah tertukar dengan orang lain.

    Kemudian, Bab XIII mengajarkan kita untuk berdamai dengan kegagalan kita. Ada kalanya kita harus merayakan kegagalan.

    Kemudian pada Bab XXIX mengajarkan kita untuk memahami bahwa hidup adalah perjalanan yang tidak dapat diulang. Sekali melaju, yang terlewati akan menjadi kenangan.

    Bab XXX menjelaskan pada kita luka masa kecil dapat memengaruhi kita saat tumbuh dewasa. Lalu di Bab XXXI mengajarkan kita untuk memaafkan kesalahan orang lain. Dengan begitu akan membuat hidup kita menjadi lebih tenang. Terakhir pada Bab XXXIII juga mengajarkan kita untuk memaafkan hal-hal yang terasa tidak adil untuk kita. Dengan begitu hidup kita akan jauh lebih Bahagia.

    Karya yang berupa ringkasan buku ini menggunakan kata-kata yang mudah dimengerti. Gaya Bahasa yang digunakan penulis tidak bertele-tele. Dengan begitu, pembaca dapat dengan mudah menangkap maksud penulis. Pilihan diksi yang digunakan penulis juga mendukung isi buku sehingga membuat pembaca dapat merasakan suasana dari buku. Tema buku ini juga berhubungan erat dengan kehidupan kita sehari-hari. Apalagi untuk remaja yang seringkali merasa overthingking dengan kehidupannya.

    Di sisi lain, terdapat beberapa kekurangan dari karya ini. Terdapat kesalahan penulisan kata di beberapa bagian. Hal ini menyebabkan pembaca terkadang harus menerka maksud dari penulis. Selain itu, terdapat kesamaan tema antara Bab XXXI dan Bab XXXIII yaitu tentang memaafkan. Hal ini membuat pembaca merasa jenuh di bagian ini.

    Kesimpulannya, cerita ini sangat sesuai dengan apa yang kita hadapi setiap harinya. Namun, pemilihan tema dalam setiap bab buku haruslah lebih beragam tetapi tetap sesuai dengan tema besar dari buku itu sendiri. Dengan begitu pembaca akan lebih merasa terbawa ke dalam buku tersebut. Penulisan kata juga harus lebih diperhatikan agar tidak terjadi kesalahan penulisan kata. Sehingga pembaca dapat memahami isi cerita tanpa perlu menerka-nerka.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

BULAN AQEELA KYANDHINI 06