AILSA NAYLA RUMEKSO 01
Anggrek
Jingga di Rumah Cinta
Judul buku : Yin Galema (bab 1)
Nama Penulis: Ian Sancin
Penerbit Buku: Hikmah
(PT Mizan Publika)
Tahun Terbit Buku: 2009
Tebal Halaman: 585
halaman
ISBN: 978-979-3714-17-2
Buku ini menceritakan seorang wanita yang merupakan putri dari selir Kaisar Ch'ing, Yin Galema. Pada bab 1 buku ini memperlihatkan
seorang wanita yang sedang melangkah mengelilingi rumah tua yang dindingnya
sudah retak-retak, bahkan lumut dan jamur mengerak. Meskipun tua dan kusam, rumah itu masih utuh, dibangun
dengan arsitektur yang mengagumkan. Pintu utamanya yang begitu tinggi dan kukuh
itu dapat dimasuki prajurit berkuda. Tapi, prajurit itu tidak pernah ada karena
rumah itu dibangun bukan untuk berkuasa, melainkan untuk bercinta.
Wanita itu terus melangkah, semakin dalam dia memasuki rumah itu, dia
merasa ada di dimensi dimana rumah itu masih dihuni. Mula-mula tercium aroma
tubuh mereka, lantas tawa kecil disertai manja digelitik canda berbagai kata.
Perlahan-lahan ruangan itu menjadi hangat dan nyaman, retak dindingnya menutup,
debunya lenyap, jamur dan lumut berangsur mengelupas. Keanggunan rumah tu ini
muncul kembali. Rumah yang dibangun di negeri terakhir wanita itu. Katanya,
negeri kecil itu adalah pulau sendirian. Kukuh ditengah-tengah
negeri besar : Andalas, Malaya, Borneo, dan Java. Orang menyebutnya Belitong
Bangka, negeri yang sangat tua.
Ki Ronggo Udo telah menempatkan cahaya dikehidupannya. Ki Ronggo Udo lah
yang membangun rumah tua atas permintaan Wanita itu. Wanita itu tertantang
untuk meraih ajara tersebut dengan segala persyaratan yang tak mungkin
dilakukan secara wajar. Berbagai hal tak masuk akal dipenuhi olehnya, termasuk
permintaan membangun rumah besar itu, istana yang tak memiliki kemiripan dengan
istana negeri manapun yang wanita itu tempuh. Dan kemustahilan itu dikabulkan
lewat pikiran dan tangan keksaih wanita itu. Rumah besar itu adalah rumah cint
mereka. Dibangun karena ingin tenteram di dlaamnya. Permintaan itu tidak
berlebihan karena ketenteraman mesti bermula dari keinginan itu sendiri.
Mengenai bentuknya rumah itu tumbuh begitu saja ; ia adalah gabungan arsitektur
dari sebuah rumah aristokrat dekat Nanking dekat wilayah kekaisaran Ming, rumah
tempat ibu wanita itu dilahirkan, dipadukan dengan rumah panggung Raja
Balok, istana ayah lelaki itu.
Arsitektur Istana Raja Balok, atapnya masih membawa bentuk atap rumah gaya Majapahit, tapi sudah tidak dengan ornamen cula diujungnya. Semula, lelaki itu suka jika setiap ujung pada atapnya dilekatkan patung anak singa, tapi menurut wanita itu singa melambangkan kekuasaan, bukan memaknai cinta maka kini yang terpasang diujung setiap atap adalah kayu eboni dengan ukiran bunga anggrek jingga, anggrek yang ditemukannya di tempat rahasia sebuah hutan gelap dekat Istana Balok.
Meskipun beberapa bangunan rumah itu letaknya saling terpisah, corak atapnya tetap sama : ujung atapnya berhias bunga anggrek jingga. Dengan adanya ornamn itu, hubungan rumah tak hanya eksotik, juga sakral. Hanya apabila rumah itu tak dikunjungi, ia teramat kotor, buruk, menua, dan menyedihkan.
Bagi wanita itu, yang terpenting bangunan itu takkan pernah ditemukan siapapun Jadi, takkan pernah ada pembicaraan tentangnya, apalagi membahas tolok ukur perbandingan yang menyamai keberadaannya. Dia ada hanya dalam sejarah kekasih wanita itu, lelaki yang harus selalu ditemuinya. Rumah itu memang dibangunnya untuk wanita itu.
Seandainya rumah
itu tak dimintanya untuk dibangun, kekasihnya akan tetap membuatkannya untuk
wanita itu. Lelaki itu mampu membaca keinginan dan hasrat yang bahkan tak
terungkap oleh lisan. Cintanya begitu kuat, tak hanya diwujudkan dalam bentuk
rumah, tapi juga dalam keseharian mereka.
Namun kini, semua
itu sudah berlalu, karena adanya pengingkaran. Pengingkaran wanita itu. Wanita
itu terpaku, masih meragukan apakah kekasihnya masih berada di kamar ujung
koridor rumah itu. Napasnya mulai kacau, ia menghrup sebanyak-banyaknya oksigen
untuk menennagkan pikirannya untuk masuk ke rumah itu.
Lelaki itu telah
membangun rumah seperti itu lebih dari satu kali, tapi hanya rumah itu saja
yang menjadi kesukaan mereka karena ada tanaman teratai di kolam
tamannya. Di beberapa rumah sebelumnya ia tak menemukan lelaki itu, lelaki
itu cepat berpindah. Dia selalu tahu kehadiranku untuk menemuinya.
Wanita itu melihat
ada cahaya diruang sana. Tampak
bayangan bergerak pertanda adanya aktivitas. Tetapi setiap langkah mendekat,
cahaya itu semakin redup. Seperti biasanya, jika wanita itu tiba, cahaya itu
akan lenyap, begitu juga dengan kekasihnya. Segala kehidupan disekitarnya pun ikut lenyap. Hanya
ada ruang kosong berdebu dan kusam.
Lelaki itu lenyap
karena hasratnya. Namun, semua ingatan tentang lelaki itu takkan pernah
terhapus. Berbagai kejadian dalam memori dapat meneriakkan emosi hingga
berkecamuk ke dalam hasrat. Jika sudah begitu maka hanyalah kekosongan yang
ditemui.
Begitu juga ketika
ia memutuskan. Semuanya lenyap dalam sekejap, termasuk wujud dari bangunan
rumah itu. Sebagai gantinya mucullah alam liar yang terkadang menjebak dalam
perangkap yang tak jelas dimana posisinya, terkadang hutan lebat menyeramkan
atau rawa dingin menggigilkan yang melasak-nusuk tulang, membuat wanita itu tak
berdaya.
Alam liar ganas
sungguh menyiksa, menyesatkan berhari-hari, bergelut melawan haus dan lapar.
Beruntung jika dipinggir hutan, bukit, danau, atau rawa, dapat kutemukan pondok
atau kebun. Dari sana, akan ada jalan setapak yang dapat diikuti wanita itu
menuju asalnya; aroma kehidupan manusia membuatnya dapat bertahan. Wanita itu
kini memang bergantung pada aroma itu karena unsur tubuhnya separuhnya telah
berubah.
Dengan tubuh yang
sudah begitu, ia tetap bertahan. Kini, wanita itu berharap kekasihnya masih ada
di sana. Wanita itu mengatur nafas agar emosinya stabil. Ia pertahankan dengan
hati yang lapang agar tetap tenang, bahwa ia kesini dengan cinta yang tulus
tanpa hasrat lain yang menyertainya. Wanita itu diam sejenak supaya lebih
menguasai diri karena khawatir gagal menyertakan cintanya. Pikirannya selalu
kalah dalam pertarungan untuk memisahkan cinta dan hasrat. Ia selalu dikalahkan
oleh emosi yang berkecamuk dalam hasrat.
Ia pejamkan mata,
seakan tak mau melihat koridor penuh kenangan itu. Sepertinya, kali ini pun ia
takkan mampu bertahan dengan emosi yang sepenuhnya belum stabil. Namun,
kesempatan ini harus ditempuh. Jika bayangan masa lalu bersamanya muncul
kembali, seketika itu juga segalanya musnah! Lelaki itu selalu dapat memasukkan
bayangan itu ke dalam pikiran wanita itu. Dia selalu tetap dapat mencari titik
lemah wanita itu hingga tak teperdaya. Itu
bagian dari balas dendamnya. Pembalasan
sakit hati dari pengkhianatan yang pernah wanita itu berikan.
Getaran suara
lelaki itu merambati pilar batu pualam di sepanjang koridor, lantas memasuki
lorong telinga wanita itu ”Yin Galema.. aku tahu kau perempuan tercantik,
terlahir untukku, dan riak darahmu yang menggelegak selalu tak dapat
kusembunyikan..”
Suara jantan lelaki
itu begitu mudah membuncah emosi wanita itu hingga ia tak mungkin berpaling
dari kekuatannya. Lelaki itu dapat selalau memasukkan energinya ke dalam inti
sel darah wanita itu, terus mengalir ke seluruh tubuh. Wanita itu tak bisa
berbuat apa pun, kecuali mengikuti permainan lelaki itu. Wanita itu memang tak
bisa menyembunyikan apa pun dari lelaki itu. Setiap getaran yang keluar dari
tubuh dan pikiran wanita itu akan mudah lelaki itu pantulkan kembali. Wanita
itu telah takluk sebagaimana yang ia inginkan di masa awal dulu. Ia takluk atas
segala keberadaannya!
Jika sudah begitu,
wanta itu pasrah dalam aturan yang dibuat oleh lelaki itu. Ini adalah bagian
dari penebusan semua kesalahannya terhadap lelaki itu. Wanita itu pun rela
untuk belum mati sepenuhnya dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari
kehendak lelaki itu.
Dia lelaki yang
memiliki mata bening, tak ingkar pada setiap pernyataannya. Ucapannya yang
lembut mampu menyentuh ujung saraf wanita itu hingga perasaannya selalu menari
ke dalam makna di setiap kata-katanya. Wanita itu memercayainya. Wajah tampan,
tubuh kukuh, serta kulit mulus membalut hati yang tulus, adalah sebuah
kesempurnaan dari semua pangeran yang pernah wanita itu lihat di istana Kaisar
Manchu di Peking. Kesempurnaan itu secara perlahan telah menundukkan
kecantikannya yang angkuh. Wanita it lulut padanya.
Angin seketika berhembus.
Rambut wanita itu tergerai bersamaan dengan tersingkirnya daun-daun kering
disekitar kakinya. Lantai koridor, yang tadi berdebu kusam, seketika berubah
bersih. Pualam di sepanjang koridor jadi bercahaya menangkap sinar lampu
gantung yang menyala. Wanita itu
terduduk takjub dalam perubahan ajaib itu. Suasananya dingin ketika menyentuh
alas pagar teras rendah yang tepiannya berprofil bunga teratai, seperti aslinya
di kolam itu, yang kini diterangi beebrapa obor bambu dan lampion warna-warni,
yang juga menyala dalam seketika.
Sekencang apa pun
angin takkan menggoyangkan lidah api obor yang menyala. Angin hanya mampu
meniup rambut lurus wanita itu, mempermainkannya sampai ke sela anak rambutnya
yang terhalus. Ini, angin malam yang mahaajaib, selalu bertiup dan hanya
berkenan mengiringi pertemuan kami. Anak rambut di tengkuknya perlahan disentuh
oleh lelaki itu. Tubuhnya bergetar, emosinya berkecamuk, ingin sekali ia menahan
waktu agar malam itu terasa panjang. Sekali lagi ia mengaku kalah, wanita itu
tak dapat bertahan. Sentuhan terhebat yang tak dimiliki pangeran mana pun.
Waktu meleleh, obor dan lampion berangsur padam, cahaya pun kembali temaram
dipayungi rembulan. Dinding-dinding akan kembali disergap lumut lapuk serta kelasak
basah yang menyengat tajam. Rasa sepi akan dimunculkan suara jangkrik dan
burung malam yang melintas di keheningan .
Keadaan kembali
seperti semula, wanita itu bersiap-siap mengambil nafas dalam-dalam untuk siap
kembali ke alam liar, entah dimana akan terdampar. Ia pejamkan matanya, ia
berharap ketika membuka mata perubahan itu hanya mimpi. Tapi ketika membuka
mata, justru tak terjadi apa pun, ia tetap berada dalam koridor rumah yang
sama. Dan cahaya di ruang kamar ujung koridor sana tak berkurang, apinya tak
padam. Wanita itu merasa aneh. Ia berpikir tak mungkin kekasihya memberikan
kesempatan untuk berlama-lama di rumah cinta itu. Diperhatikannya seluruh bangunan
tetap utuh, tak ada perubahan apa pun. Seketika ia sadar, tercium aroma mantra.
Ya, itu berasal dari gelang simpai pemberian Ki Ronggo Udo, yang kini
dikenakannya. Lamat-lamat wabita itu mendengar seperti ada yang memanggilnya.
Muncullah wujud lelaki itu seraya berkata ”perjalanan kita belum berakhir, kau
belum bisa bersamaku, cintamu belum cukup membimbingmu sampai padaku..”
Mereka bertahan
dalam perjumpaan maya itu. Duduk
bersilanya bergeming. Dia berkata datar, "purnama depan aku akan mengunjungimu di rumah
ini.." Tiba-tiba suara itu mengisi rongga pikiranku membuatku
serasa bangun dari mimpi, dan ruangan itu seketika lenyap! Seperti sebelumnya.
Ketika siuman, wanita itu mengingat-ingat awal kedatangnnya ke negeri ini.
Ia pikir hanya akan bertahan sebentar untuk kembali lagi ke Tiongkok atau
mengarungi lautan karena ayahnya telah menyiapkan kapal untuk pelayaran. Namun,
wanita itu menjadi betah dan tak tertarik untuk pulang. Ia telah merasa dekat
dengan lelaki itu.
Lelaki itu, putra istri kedua raja pertama kerajaan negeri ini, istri yang
tak pernah tercatat dalam silsilah keluarga Raja Balok.

Nashwa-17
BalasHapusBuku tersebut menceritakan tentang seorang wanita yang merupakan putri dari selir Kaisar Ch'ing, Yin Galema. Yang sedang mengelilingi rumah tua yang dindingnya sudah retak-retak, bahkan lumut dan jamur mengerak. Namun, rumah tua itu dibangun dengan arsitektur yang mengagumkan. Rumah itu dibangun oleh Ki Ronggo Udo atas permintaan dari Wanita itu. Rumah tersebut merupakan rumah cinta untuk mereka.
kelebihan pada teks novel yang ditulis membuat para pembaca berimajinasi saat membacanya.
kekurangan pada teks novel tersebut bahasanya sulit dipahami sehingga para pembaca kurang begitu menarik bagi pembaca yang tidak suka membaca buku fiksi.
Saran untuk memperbaiki resume ini adalah penulis menggunakan bahasa yang mudah dipahami dan lebih diringkas lagi agar para pembaca bisa mengerti dan tertarik membaca nya karena bahasanya yang tidak berat